Simpang
7 Football Club (disingkat Sp 7 FC) adalah sebuah klub sepakbola
kampung yang berbasis di Ulee Kareng Banda Aceh Nanggroe Aceh
Darussalam, Indonesia. Tapi Sp7 FC punya cita-cita besar untuk
bisa sejajar dengan klub-klub besar Indonesia yang bermain di
liga Indonesia dan Liga Super. Buat SP7 FC : football is life.
Sepakbola bukan perkara biasa.
Bukan
hanya perkara mencari lahan kosong, memasang gawang, lalu membagi
kelompok menjadi dua tim seperti yang kita lakukan di masa kecil.
Sepakbola bukan sekedar permainan berebut dan menceploskan bola.
Bagi Sp 7 FC Sepakbola punya lebih dari itu: di dalamnya tersaji
drama dan lakon tentang manusia dan kehidupan.
Sepakbola adalah pesta. Sarat prestasi,
penuh prestise, dan glamour. Sepakbola adalah permainan yang
ikut menentukan martabat bangsa dalam pergaulan internasional.
Tidak
jelas siapa sebenarnya yang mendirikan Sp7 FC, tapi yang pasti
pendirinya adalah orang-orang yang punya nilai-nilai kekeluargaan
yang tinggi. Berawal dari kesamaan hobi dan punya keinginan untuk
menjadikan sepakbola sebagai sarana menjembatani perbedaan suku,
bangsa, ras, bahasa, dan kebudayaan.
Oleh
karena itu pulalah SP7 FC terbuka untuk siapa saja. Dan sekali
lagi Sepakbola dianggap paling pas, bisa diterima semua pihak,
untuk menyatukan masyarakat yang multicultural dengan memakai
satu bahasa yang sederhana dan universal, sepakbola..
2004 adalah awal di deklarasikannya SP7 FC untuk memulai cita-cita
menjadi bagian dari sebuah industri komersialisasi sepakbola Indonesia
walau harus diterima dengan pahit bahwa sepakbola Indonesia jauh
dari yang namanya beradab.
Kita sangat iri melihat Negara-negara yang maju sepakbolanya seperti
Inggris, sebagai negara asal sepakbola modern, Inggris adalah
salah satu contoh negara yang sukses dengan komersialisasi sepakbolanya,
jauh lebih sukses dari negeri-negeri saingannya seperti Italia,
Jerman, Spanyol, atau Perancis.
Dimana di Negara mereka Pemerintah mengurus
sepakbola dengan sangat serius. Stadion-stadion dibangun, klub-klub
dihidupkan, kompetisi dimeriahkan, pertandingan disulap semenarik
mungkin. Hingga tercipta atmosfer sepakbola yang ramah, hangat,
mempesona, dan megah. Akankah semua itu satu saat nanti akan
tercipta di Indonesia yang banyak menyimpan pemain-pemain berbakat.
Tidak adakah 11 orang di antara 4 (empat) juta lebih penduduk
Indonesia ?
Tidak banyak memang prestasi yang diraih
klub SP7 FC di Klub yang baru terbentuk di tahun 2004. SP7 FC
mengukir prestasi terakhirnya pada awal 2007 di turnament HUT
PS Rambo Bayu Aceh Besar dan berhasil meraih juara ketiga setelah
menundukkan beberapa klub-klub hebat baik dari Banda Aceh maupun
Aceh Besar.
Prestasi ini tergolong
cukup membanggakan mengingat semuanya dicapai tanpa adanya dukungan
dana yang kuat,hanya mengandalkan semangat dari pemain-pemain
yang tergolong berusia produktif.
Disamping itu juga tanpa ada lapangan yang tetap karena selama
ini menggunakan lapangan pinjam pakai dari klub yang dekat dengan
home base SP7 FC. Hal ini juga tidak mengurangi prestasi ketika
meraih piala kedua di turnamen Aceh Besar lainnya seperti di
Lapangan Montasik pada tahun 2005 dan peringkat kedua turnament
Miruk Taman pada medio 2006 silam.